muhasabah 25 tahun

Alhamdulillah.. segala kesyukuran dipanjatkan kepada Allah Ta’ala.. yang memberikanku kefahaman tentang nilai dan erti hidup sebenar, supaya aku dapat mengenali dengan lebih dekat siapa Tuhanku, bagaimana aku diciptakan, kenapa aku diciptakan, untuk apa kesemuanya ini ada di depan mataku..ya Allah.. aku lebih mensyukuri nikmat yang diberikan kepadaku, dan aku lebih mencintaiMu, tapi benar, aku juga lebih takut akan seksa dan azabMu, takut untuk membuat maksiat, takut untuk melemaskan diri dalam lautan jahiliyyah yang pernah cuba melemaskanku sewaktu ketika dahulu.. ya Allah.. sesungguhnya aku hanyalah manusia, yang ada kelebihan dan banyak juga cacat celanya.. tapi apa yang kuharapkan adalah keampunan dan rahmatMu.. supaya aku tidak tergolong dalam orang yang pada hari itu tunduk malu dan kesal dihadapanMu kerana ingkar dan sombong kepadaMu..

Semoga 25 tahun yang telah ku lalui diberkatiMu. Semoga detik-detik hidupku yang selebihnya ini dapatku gunakan untuk mendekatkan diriku kepadaMu, dan meraih mardhatiLlah yang aku dambai.

—-

Saja nak share di sini, koleksi gambar2 yang berlatarbelakangkan langit =)

 

usrah di tepi pantai sambil melihat sunrise

mukhayyam akhawat

trip naik ferry melihat sunset dgn zauj =)

di usyd bersama zauj

jaulah akhawat dari melbourne ke adelaide

muhasabah diri di coogee

dalam perjalanan ke wyong, rehlah bersama akhawat

perjalanan balik ke rumah dari uni

perjalanan balik dari mesia ke sydney..

Tawakkal ‘ilallah (pengorbanan perasaan)

‘Dan sungguh, (al-Quran) itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang2 yang beriman. Sungguh, Tuhanmu akan menyelesaikan perkara di antara mereka dengan hukumNya, dan Dia Mahaperkasa, Maha Mengetahui. Maka bertawakkallah kepada Allah, sungguh engkau berada di atas kebenaran yang nyata.’

‘Sungguh, engkau tidak dapat menjadikan orang yang mati dapat mendengar dan tidak pula menjadikan orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka telah berpaling ke belakang.’

‘Dan engkau tidak akan dapat memberi petunjuk orang buta dari kesesatannya. Engkau tidak dapat menjadikan seorang pun mendengar, kecuali orang2 yg beriman kepada ayat2 Kami, lalu mereka berserah diri.’

Saddaqallahul ‘Adzim.
Surah an-Naml: 77-81

We want the best for them, sanggup buat apa-apa sahaja (within syarak) untuk mereka mendengar kata2 kita, untuk membuka mata mereka supaya mereka dapat melihat erti dan realiti hidup yang sebenarnya. Untuk sujud kepada Allah yang Maha Esa, untuk meninggalkan segala perkara yang tiada gunanya, untuk lahir dalam hati satu perasaan ‘Ya, aku mempunyai peranan yang penting dalam membangunkan umat Islam yang sedang lalai, leka dan terpersona dengan dunia. Akulah yang akan mengubah semua itu! I am the change!’

Ya Allah, harapan dan perasaanku untuk mereka berubah kepada yang lebih baik sangatlah tinggi..tapi ayat2 di atas mengingatkanku bahawa aku tidak ada kuasa untuk mengubah mereka. Yang hanya berkuasa untuk melakukannya adalah Engkau, ya Allah.. No other.

Aku hanya mampu untuk melakukan apa yang disuruh olehMu, bersabar dan bertawakkal kepadaMu..but this is very challenging. Utk mengawal emosi selepas meletakkan seluruh jiwa kepada sesuatu yang belum tentu berjaya adalah sesuatu yang sukar bagiku. Lagi2 kalau sesuatu itu memang tidak berjaya (hati dirobek2).

We can only do so much, but it is He who controls the outcome.

Learn to let go missy.. Just do your best and worry about what you have to do, and not on the outcome xx

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah

Allahuakbar, allahuakbar, allahuakbar..

La ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minazzalimin..

Salam wbt..

It’s already past midnight…and I probably think I should head home. Of course..why would someone want to stay up in the lab on a Friday evening T_T but gladly I would say, Alhamdulillah.. finished an experiment that had so many so many obstacles. Can you believe it, it took me (and supervisor) almost a semester to solve numerous problems in that experiment just to make it work…and although I have finished this experiment, the result will determine whether or not I should repeat it with further alterations. So in actuality, it has not yet finished. Huhu.

Although I may be entitled to feel depressed because of my state of life (some would ask, ‘Do YOU have a life?’ *smirk*), I’m not. Alhamdulillah I am soooo not =) Before this I did question why I chose to continue my study here, away from my husband (actually he was suppose to come but something happened), away from the people I love (and missing so much), family etc. Why, for the fact that I do have an alternative, I did have a choice (peluang beramal di mana-mana). That was when I got ‘depressed’ because I thought I made the wrong decision. I know I shouldn’t feel this way, but if you have so many things that are against you, you couldn’t help but to think that you’ve made a mistake. It didn’t help that I was struggling with my PhD, I almost thought that this was not for me.

Actually, I already had a reason as to why I should come here. That was even before I came here. The best reason that anyone, any Muslim, any Mu’min can have for being where he/she is. Subhanallah. But really, just knowing without putting your whole heart in it is nothing. Astarghfirullah. Alhamdulillah Allah made me sit down and really question myself. And it goes back to the same thing but now with an enlightenment. Pembaharuan niat ^_^

I still miss my husband, and my family, and akhawati fillah over there. But I chose to persevere here because I believe that Allah has stored something good for me. It became clear to me that it doesn’t matter where we are, or whatever that is being presented (or afflicted) to us, what matters is how we see it and act upon it and that is observed by Allah SWT. Although this is way easier to say than do, this is what I have been believing for so long and I should stick to and be reminded by it always. It is all about learning and Alhamdulillah I am growing =)

So many things to contemplate, but it’s really getting late. I hope Allah will forgive me for my past mistakes and include me as one who has strength in Iman and Taqwa.

@—/—–

La ila ha illa anta, subhanaka inni kuntu minazzalimin..

Miserable observation

As I am writing this, I just finished eating my brunch at one of the cafeteria at uni. One would expect that in a uni in a caucasian country, you’d be surrounded by caucasians. But no, on my right, there’s a group of mixed undergrads of Indians and Chinese, apparently those Indians are muslims as one was talking about how fantastic her Eid was (she dressed as how ‘normal’ people would therefore I could not recognise if she’s Muslim just from appearance).

‘I think I’ll just grab a salad as I just ate too much at Eid’

‘Yknow in Eid there would be this competition where all the girls will dress up and compete who’s the hottest!! Clearly I am on top! Lol!!’

And the crowd roared with laughter.

On my left, there’s this girl, a Malaysian muslim in fact, whom I have known for so long, but known for her unfriendliness and chose to mix with non muslims and only medicine related people (I don’t know if that makes sense).

So actually, I am surrounded by Muslims.

But why do I feel so miserable?

Not just miserable but exasperated, wanting to shake them all up.

To my right, ‘My dear, Eid is not about competition of who’s the hottest and eating too much, but it’s a celebration of triumph from Ramadhan, a blessing from Allah for those who obtained taqwa from fasting and doing righteous deeds’.

To my left, ‘Be proud that you’re a Muslim, be proud that you’re a Malay. Have you heard of brotherhood and sisterhood in Islam? A muslim is like a sister or brother to you, we greet them with the most honorable greeting, ‘Assalamualaikum, peace be upon you’, do you see that? Do you? And smile when you say that, that will trascend you to a better person’.

I love you all for Allah.

AGUNGKAN ALLAH, SEMUA JADI KECIL

AGUNGKAN ALLAH, SEMUA JADI KECIL

Hasbunallah wa ni’mal wakiil, Cukuplah bagi kami Allah, dan Dia sebaik-baik penolong”. Ungkapan diatas disenandungkan oleh kekasih Allah swt, Ibrahim as, saat penguasa dan pengikutnya mengeroyok dan menceburkan dirinya dalam bara api, namun Ibrahim selamat dan menjadi pemenang.

Ungkapan itu juga yang dilantunkan oleh nabiyullah Muhammad saw. tatkala mendapat pengkroyokan dan penganiayaan dari pasukan Ahzab. Rasul pun keluar sebagai pemenang. HR. Bukhari.

“(yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, Maka perkataan itu justru menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. QS. Ali Imran: 173

Sudah menjadi sunnatullah dalam dakwah, bahwa jalan dakwah tidaklah bertabur kenikmatan, kesenangan dan kemewahan. Dakwah diusung menghadapi penentangan, konspirasi, persekongkolan, isolasi, pengkroyokan, bahkan ancaman pembunuhan. Oleh karenanya dakwah hanya bisa diemban oleh mereka yang mewakafkan diri dan hidupnya untuk Allah swt semata. Dakwah tidak mungkin akan dipikul oleh mereka yang mengharapkan kemewahan dunia, bersantai dengan kesenangan materi.

Rasulullah saw didalam memulai perjuangan menyeru kerabat dan kaumnya, mendapatkan taujihat Robbaniyyah –arahan Allah swt- agar menguatkan keimanan, kepribadian dan kesabaran: yaitu arahan untuk senantiasa mengagungkan Allah, membersihkan jiwa, mejauhkan diri dari maksiat, mengikhlaskan kerja, dan sabar dalam perjuangan.

Berikut taujihat rabbaniyyah dalam surat Al Muddatstsir ayat 1-7 untuk Muhammad saw dan tentunya untuk umatnya semua. Allah swt berfirman:

”Hai orang yang berkemul (berselimut). Bangunlah, lalu berilah peringatan!. Dan Tuhanmu agungkanlah!. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.” QS. Al Muddatstsir: 1-7.

Bekal pertama, Agungkan Allah.

Allah swt menanamkan dalam persepsi dan keyakinan Muhammad agar hanya mengagungkan Allah swt semata, selain-nya kecil tiada berarti. Baik dalam konteks tawaran kenikmatan duniawi, pun dalam konteks siksaan, penolakan dan pembunuhan di dunia yang dilakukan musuh-musuh dakwah, maka jika dibandingkan dengan pemberian, keridloan dan surga Allah swt sungguh tiada ada artinya.

Pengagungan Allah swt dalam qalbu, lisan, fikiran dan perilaku. Dalam setiap kesempatan dan kondisi Rasulullah saw selalu berdzikir dan mengagungkan Allah swt, sehingga inilah rahasia do’a Nabi saw ketika kelur dari buang hajat: “Ghufranaka: Aku mohon ampunan-Mu Ya Allah.”. Hasil penelitian para ahli hadits menyimpulkan bahwa Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan dzikir dan pengagungan Allah swt, namun karena tidak diperkenankannya berdzikir di saat buang hajat, maka ungkapan pertama saat keluar dari buang hajat adalah, mohon ampun karena beliau tidak melakukan dzikir pada saat buang hajat.

Dengan sikap inilah, ma’iyatullah –kebersamaan Allah- dalam bentuk pertolongan-Nya selalu datang pada saat dibutuhkan.

Inilah rahasia dikumandangkannya kalimat takbir “Allahu Akbar wa lilLahil Hamd, Allah Maha Besar dan bagi-Nya segala pujian”.

Bekal kedua, Bersihkan Hati.

Dalam upaya mengagungkan Allah swt dalam setiap kesempatan, maka dibutuhkan hati yang bersih dan jiwa yang suci. Hati adalah panglima dalam tubuh seorang manusia. Jika panglima itu baik, sudah barang tentu tentaranya akan menjadi baik, sebaliknya jika panglima buruk, maka buruklah semua tentaranya.

Mayoritas ahli tafsir sepakat bahwa perintah mensucikan pakaian disini kinayah atau kiasan, bukan makna dzahir. Artinya perintah pembersihan hati dan pensucian jiwa. Penampilan fisik tidak akan berarti, apabila apa yang dibalik fisik itu busuk.

Hati senantiasa dijaga kefitrahannya dan dibersihkan dari beragam penyakit hati, seperti sombong, iri, riya, adu domba, meremehkan orang, dan yang paling berbahaya adalah syirik, menyekutukan Allah swt dengan makhluk-Nya.

“…..dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kamu sedikitpun….” (QS. At Taubah : 25-26).

Bekal ketiga, Jauhi Maksiat.

Agar keagungan Allah swt menghiasi diri, maka diri harus menjauhkan dari dosa dan maksiat. Begitu pun sebaliknya, meninggalkan maksiat akan mewariskan ma’iyyatullah.

Allah swt hanya akan turut campur kepada orang beriman dengan menurunkan pertolongan-Nya, jika orang beriman itu dekat dan taat kepada-Nya. Sebaliknya jika mereka berbuat maksiat dan dosa, maka apa bedanya mereka dengan orang lain? Bedanya orang lain lebih canggih perlengkapannya dan lebih besar jumlahnya. Sehingga secara hitungan rasio manusiawi orang lain mampu mengalahkan orang beriman.

Ada kisah menarik, dalam sebuah peperangan melawan kaum kuffar, kaum muslimin beberapa kali mengalami kekalahan. Sang panglima segera mengevaluasi pasukannya, mengapa kekalahan demi kekalahan bisa terjadi? Tak ada yang kurang. Semua perlengkapan lengkap, pun ibadah-ibadah dilakukan dengan baik. Namun saat pagi menjelang, sang panglima mengamati pasukannya dan baru menyadari bahwa ternyata pasukannya melupakan satu sunah Rasul, yaitu bersiwak! Panglima segera memerintahkan menggosok gigi dengan siwak (sejenis kayu) kepada seluruh pasukannya. Pasukan pengintai dari pihak musuh menjadi takut karena melihat para tentara muslim tengah menggosok-gosok giginya dengan kayu, dan mengira pasukan kaum muslimin tengah menajamkan gigi-giginya untuk menyerang musuh. Pihak musuh menjadi gentar dan segera menarik mundur pasukannya.

Sepele, lupa bersiwak, namun besar dampaknya. Inilah rahasia pertolongan Allah swt.

Bekal keempat, Ikhlaskan dalam Berjuang.

Hidup seorang mukmin adalah untuk prestasi amal dan kontribusi manfaat untuk umat manusia. Kesemuanya itu dilakukan semata-mata dilandasi mencari keredloan Allah swt semata. Balasan Allah swt jauh lebih baik dan lebih mulya, dibandingkan dengan kemewahan dunia berikut kemegahannya. Seorang mukmin akan selalu mengejar mimpinya, yaitu keridloan Allah swt, di dunia dan di akhirat kelak.

Menarik disini seruan Allah swt dalam bentuk ”larangan”, sedangkan yang lainya menggunakan bentuk ”perintah”. ”Jangan kamu memberi untuk mengharapkan mendapat imbalan yang lebih”. Artinya, peringatan keras dari Allah swt agar manusia senantiasa mengikhlaskan amal perbuatan dan perjuangan. Tidak merasa paling berjasa dan juga tidak meremehkan andil orang lain.

Bekal kelima, Sabar Di Jalan Allah.

Sabar dalam kesunyian pengikut, sabar dalam penolakan ajakan, sabar dalam kekalahan, dan sabar dalam kemenangan dan kemewahan.

Ketika Rasulullah saw mengetahui kondisi keluarga sahabatnya, Yasir yang mendapat siksaan berat dan pembunuhan keji, Rasulullah saw langsung memberi kabar gembira kepada mereka:

صبرا ال ياسر فإن موعدكم الجنة””

“Sabar wahai keluarga Yasir, Sungguh surga buat kalian kelak!.”

Sabar dalam berdakwah mencakup segala hal yang positif, seperti banyak ide, solusi, perencanaan, kerja keras, kerja sama, pendelegasian, pemanfaatan sarana dan adanya evaluasi. Sabar bukan dikonotasikan negatif seperti pasrah, nerimo, malas, menunggu dan tidak berusaha.

Dengan bekalan itu terbukti dalam sejarah, Rasulullah saw mampu melewati dua masa sulit sekaligus: Masa sulit mendapatkan tawaran kemewahan, jabatan, pengikut, bahkan wanita. Dan masa sulit tatkala beliau harus berdarah-darah menerima pengkroyokan dan penganiayaan dari kaumnya.

“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.

Inilah bekalan bagi penyeru kebajikan dan penerus perubahan dari masa ke masa.

Allahu A’lam.

*Diambil dari tulisan ust ulis tofa Lc di:

http://www.dakwatuna.com/2007/agungkan-allah-semua-jadi-kecil/

Subhanallah

Reflection, once more

And it will never stop.

I feel that everything around me moves so fast that I feel like I can’t breathe easily or actually breathe slowly (I enjoy breathing slowly..it gives you peace =)). In other words, hati dalam tak tenang. I don’t want to blame my busyness.. that’s not right. For the busiest person on Earth can be the happiest, and the least busy and most relaxing person can easily enter into depression.

If it’s not my busyness, then what is it?

Upon reflecting my prac class with those 2nd year students this morning.. it didn’t turn out well. First of all, I was underprepared. I did my work, i.e. I did my readings, but that was not enough to actually overcome the sooooo many typos in the manual, and to clarify my confusion over the instructions. Rather than attempting to work my way out of the haze, I ignored it. The result was, unsurprisingly, confused and frustrated students. What’s more, my confused face wasn’t helping them. That made me really felt bad, because these kids deserve so much more. I felt evil. Zalim. Tak memberikan hak sepenuhnya kepada yang patut menerimanya =(

What also makes me nervous (hati tak tenang) is the fact that there will be a lab inspection in a few days, where some outside authority will conduct an annual inspection to ensure that the lab we’re working in is up to par with the national standard. Being the lab manager of course I am nervous. Dengan banyak benda yang kena amend.. how can I not be nervous. But again, I have not prepared fully for this, or lead people the way I should be. Hence, ketidaktenangan.

What’s more, this Friday I will face my review panel for my first annual review. For the first time, I will meet them and discuss my project, and this will determine whether or not I’m fit enough to continue my PhD. Goodness gracious. Can I do this?

On top of that, I just moved into a small place, and finallly let go of the old one. Things from the old place kept on adding into the new place and the last time I saw it, I felt that it was more like a garage store than an actual home. Lagi lah tidak tenang….. huhuhu I am trying my best to ignore this one because this should be very well a minor thing but still! argh!!! lemas lemas

So yes, I’m blurting what I’m currently facing because.. I want to find the real reason why I feel unease. Usually I would feel this if I don’t have a sense of control with what I’m doing. And this is probably why. Underpreparation. Lack of time management. Lack of prioritisation.

Allah dah berikan masa, gunakan dengan sebaiknya. To complain that there is not enough time would totally be rejected by me, especially if it’s coming from my very own mouth. If I really use the time that Allah give me the best that I can, there is no reason for me to feel unease  because I really have tried my best.

The question is, have I?

Previous Older Entries Next Newer Entries